Top! Ada Startup yang Sudah Untung, Omzet Lebih Dari Decacorn

redaksiutama.com – Industri startup biasanya identik dengan bakar uang. Hal ini bertujuan untuk menjaring banyak konsumen tanpa mempertimbangkan keuntungan bagi perusahaan.

Namun, rupanya di Indonesia ada perusahaan startup yang mampu mencatatkan laba, bahkan lebih dari startup sekelas decacorn.

Startup perikanan eFishery mencatatkan diri sebagai startup akuakultur terbesar di dunia. Meski belum menyandang gelar unicorn, profit eFishery disebut melebihi startup bergelar decacorn sekelas Gojek.

“Pendapatan omzetnya bulan terakhir dikali 12 udah Rp 4 triliun bisnisnya profitable. Jauh lebih profitable dari Gojek,” kata Co-founder & Managing Partner at Northstar Advisors, Patrick Walujo, dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu (24/6/2022).

Co-founder dan CEO eFishery Gibran Huzaifah membagikan cerita saat dia membangun startup pengembangan budi daya ikan tersebut.

Ia merasa beruntung karena pemain di pasar ini belum banyak yang melirik. Jadi dia bisa bertahan dengan pola pikir jangka panjang untuk menjalankan perusahaan.

Selama 7 tahun awal, kata dia eFishery hanya dapat pendanaan atau funding kurang dari US$5 juta, karena banyak investor tidak melirik.

“Tapi ini bikin kami bangun kultur dan bisnis model yang kuat,” kata dia dikutip dari Twitternya, Kamis (22/9/2022).

Ia pun menyatakan keprihatinannya melihat kondisi startup saat ini yang sedang banyak melakukan PHK. Namun, ia yakin kalau koreksi yang terjadi saat ini bisa membuat ekosistem teknologi tanah air lebih baik lagi.

Karena proses seleksi alam yang baru ini, nanti perusahaan yang tersisa memang adalah perusahaan dengan produk yang kuat, bernilai bagi konsumen, serta mempunyai talenta dan sistem yang teruji.

“Ini yang nantinya akan diapresiasi investor dan dirayakan oleh media. Jadi kita punya tech ecosystem yang fondasinya riil,” ungkapnya.

Patrick menyebut bahwa eFishery juga mendapatkan perhatian dunia. Hal ini terlihat dari pendanaan yang melihat nama-nama besar dari Sequoia, Temasek, dan Softbank.

Lebih lanjut, dia mengisahkan bagaimana e-Fishery pertama kali didirikan. Dia mengaku bertemu pendiri e-Fishery, Gibran Huzaifah, yang baru selesai sekolah di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Saat itu Gibran menjelaskan ide membuat alat dengan sensor untuk memberi makan ikan sesuai dengan pergerakannya.

Ide awal itu sangat sederhana, bahkan Patrick mengaku tidak percaya mesin itu akan efektif. Namun akhirnya, dia menyatakan kagum dengan ide tersebut dan mulai memberikan pendanaan pada e-Fishery.

“Tapi karena saya begitu kagum ide seperti ini dan semangat luar biasa, saya ikut kasih pendanaan sedikit. Supaya saya bisa ikuti perkembangannya seperti apa,” jelasnya.

e-Fishery telah mengembangkan bisnisnya. Bukan hanya melayani petani ikan yang berlangganan alatnya, tetapi juga memberikan modal kerja dan membeli ikan-ikan itu untuk dijual ke restoran.

Patrick mengatakan bisnis yang ditawarkan e-Fishery asli dari Indonesia. Sebab di negara lain, bisnis serupa tidak ada sukses.

“Melihat negara-negara lain, India dan China sebetulnya bisnis seperti ini yang sukses. Ternyata enggak ada ini bisnis model asli 100% bisnis model di Indonesia,” pungkasnya.

error: Content is protected !!
Exit mobile version