Pendulang suara karena matinya kaderisasi?

“Nasdem partai terbuka. Kalau banyak diminati artis, ya Nasdem terima,” ujarnya.

Berkaca dari hasil Pileg 2019, Hermawi mengakui tak mudah meloloskan selebritas ke parlemen. Maka, sebelum pemilu digelar, ia mulai membentuk tim khusus untuk menopang kinerja mereka agar lebih tangguh dalam pertarungan caleg pada 2024.

Hermawi menuturkan, artis yang bergabung dalam Nasdem bukan tanpa pengetahuan politik. Mereka, kata dia, sudah punya bekal, tetapi kurang mumpuni dalam pertarungan caleg.

“Dalam proses penyusunan calon 2024 sudah banyak juga dari mereka yang menyatakan keinginan untuk maju lagi sebagai caleg di berbagai level (DPRD-DPR),” ujar dia.

“Kami sedang proses dengan persyaratan dan kriteria yang sama dengan calon-calon lain.”

Lebih lanjut, Hermawi mengatakan, bakal memberi pembekalan kepada selebritas di The Selebrity agar lebih piawai merebut suara pemilih, sekaligus memetakan suara yang bisa dikapitalisasi.

“Tentu ada treatment khusus, tapi maaf saya tidak bisa ungkapkan semua,” ucap dia.

“Yang jelas, selama tiga tahun terakhir, para artis kita yang serius mau jadi politisi kami gembleng khusus, kami beri pendidikan dan pelatihan yang bagus, serta kita jejali dengan berbagai literatur yang harus mereka baca.”

Penyanyi dan pencipta lagu Ageng Wahono atau lebih dikenal dengan Ageng Kiwi merupakan salah seorang kader Nadem yang tergabung dalam The Selebrity. Ia mengatakan, rekan-rekan artis di The Selebrity sedang berlomba-lomba memperkenalkan diri ke masyarakat, menjelang Pemilu 2024.

Pedangdut yang melantunkan lagu “Maaf Kamu Hamil Duluan” tersebut, belakangan pun sibuk masuk ke simpul-simpul pemilih muda dan ibu-ibu di daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah VIII, yang meliputi Banyumas dan Kabupaten Cilacap.

“Kalau ibu-ibu, aku mendekati mereka dengan memberikan pendidikan make up. Aku keluar-masuk kampung ngajarin sampai ke RT-RT,” ujar Ageng, Senin (1/8).

Ageng pun rajin mendatangi kafe-kafe dan hajatan warga di wilayah Purwokerto dan Cilacap untuk bernyanyi. “Aku nyumbang lagu buat memperkenalkan diri ke anak muda. Tapi aku belum kampanye,” ujarnya.

Di akhir pekan, ia mampir ke alun-alun kota dan kabupaten di wilayah dapil Jawa Tengah VIII, menghibur warga. Segala cara itu ia lakukan lantaran sadar, dirinya belum banyak dikenal warga.

Sejatinya, Ageng bukan orang baru dalam pertarungan caleg. Ia pernah maju sebagai bakal caleg DPR pada 2019 di dapil Jawa Tengah VIII, tetapi kalah. Becermin dari pengalaman itu, ia kini rajin turun ke lapangan untuk menghibur orang.

“Ya ikhtiar lah,” kata Ageng.

Dua kali terpilih sebagai anggota legislatif (2014-2019 dan 2019-2024), aktris Desy Ratnasari tak mau leha-leha. Ia sadar, konstituen adalah aset yang perlu dirawat.

“Saya tetap bekerja untuk masyarakat Sukabumi, tetap bermanfaat untuk masyarakat Sukabumi. Insyaallah hasil akhirnya mengikuti,” kata politikus PAN yang duduk di Komisi X DPR itu, Sabtu (30/7).

Desy ingin mencoba kembali ikut dalam Pileg 2024. Ia mengaku, tak ingin terlalu mengandalkan popularitasnya. Sejak 2014, menurutnya, ia sudah terbiasa bekerja dengan model strategi penggalangan suara melalui relawan.

“Pola Relawan menurut saya lebih terukur dan terarah dalam menentukan target pemenangan,” ujar pelantun lagu “Tenda Biru” itu.

Dalam menentukan target pemilih, Desy selalu memetakan karakteristik pemilihnya di dapil Jawa Barat IV, yang meliputi Kabupaten dan Kota Sukabumi berdasarkan gender dan usia. Kemudian, ia merancang strategi kampanye sesuai dengan isu yang berkembang di masing-masing segmen pemilih. Selanjutnya, dikuantifikasi menjadi dukungan suara.

“Oleh karena itu, saya lebih fokus kepada instrumen relawan karena teruji menghasilkan suara,” kata Ketua DPW PAN Jawa Barat tersebut.

“Bahkan, dengan pengurangan instrumen relawan di beberapa kecamatan pada Pileg 2019 naik 53% lebih, dibanding perolehan suara 2014 dengan instrumen yang bisa dibilang full.”

Selain itu, terkadang Desy menggunakan data lembaga survei untuk melakukan penetrasi kepada pemilih di Sukabumi. Namun, hal itu dilakukan jika DPP PAN sedang berupaya mengukur elektabilitas.

“Saya tinggal mengikuti dan menjalani evaluasi dari hasil survei tersebut,” kata Desy.

Popularitas, uang, dan kaderisasi

Direktur Riset Indonesian Presidential Studies (IPS) Arman Salam mengatakan, caleg dari kalangan selebritas memang punya modal kuat sebagai pemenang karena sudah memiliki tingkat popularitas. Hal itu, kata Arman, modal awal untuk dipilih, selain kesukaan publik, kepantasan, serta elektabilitas yang tinggi.

“Populer menjadi syarat wajib bagi calon yang mau bertarung dalam pemilu, baik di legislatif maupun eksekutif,” kata Arman, Selasa (26/7).

Kalangan artis yang memiliki potensi sebagai pendulang suara, sebut Arman, bukanlah fenomena baru dalam tradisi pemilu di Indonesia. Biasanya, keberadaan artis akan efektif di wilayah yang sangat tradisional.

“Hanya mengandalkan popularitas calon, bisa menang,” ujar dia.

Akan tetapi, hal itu terkadang tak berlaku bagi artis yang mencalonkan diri di perkotaan. “Untuk pemilih yang modern dan rasional, figur atau artis yang dipandang publik tidak memiliki kualitas akan tersungkur,” tuturnya.

Karena itu, Arman memandang, popularitas artis perlu ditunjang dengan prestasi berbasis kinerja atau paling tidak meningkatkan kapabilitas politiknya.

“Seiring dengan meningkatnya pemahaman publik terhadap politik dan demokrasi, dibutuhkan persiapan dari partai atau figur untuk meng-upgrade diri dari sisi kapasitas,” ucap dia.

Para pesohor, kata Arman, juga harus inovatif dalam menyampaikan gagasan yang realistis dan masif. Sebab, ia memprediksi, Pemilu 2024 bakal sarat pertarungan di media sosial.

“Terlebih saat ini banyak kanal informasi yang bisa dimanfaatkan sebagai upaya melakukan sosialisasi secara efektif dan efisien,” kata Arman.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia Ujang Komarudin melihat, fenomena caleg artis muncul lantaran ada rasa saling membutuhkan antara selebritas dan partai politik. Selebritas ingin mencari peruntungan baru di politik, sedangkan partai politik butuh dukungan mendongkrak suara.

Karakter masyarakat yang menyukai figur publik lewat layar kaca atau media sosial, menurut Ujang, menjadi magnet politik untuk mendulang suara partai.

Walau begitu, Ujang mengingatkan, para artis untuk meningkatkan kapasitas atau mencari partai politik yang potensial membuatnya lolos ke parlemen. Sebab, bakal sia-sia bila hanya mengandalkan popularitas semata, tanpa merancang peluang yang realistis.

“Dia memang bisa saja kalah, tapi paling tidak menambah suara partai,” kata Ujang, Selasa (26/7).

Di samping itu, Ujang memandang, politik di Indonesia sangat lekat dengan uang. Oleh karenanya, faktor finansial menjadi salah satu risiko yang mesti ditanggung para pesohor.

“Karena kalau enggak didukung dengan uang juga berat. Banyak yang populer juga tumbang, yang terpilih paling hanya beberapa persen,” kata Ujang.

Ujang menilai, kegagalan banyak caleg artis pada 2019 disebabkan kalah strategi dalam hal finansial dengan politisi berkocek tebal di dapil masing-masing.

“Ini mesti diperhatikan,” katanya. “Masyarakat juga bisa memilih, karena artis atau karena uang.”

Pengalaman kalah karena politik uang pernah pula dialami Ageng pada Pileg 2019. Menurutnya, uang sangat potensial mengubah pilihan politik seseorang dalam waktu singkat, menjelang hari pencoblosan.

“Karena (uang) membuat yang sebenarnya amanah jadi kalah. Jadi, tolong masyarakat lihat kepedulian dan keseriusannya membawa aspirasi, bukan karena duitnya,” ujar Ageng.

Kekalahan dalam pileg DPR pada 2019 itu membuat Ageng putar halauan. Pada Pileg 2024, ia memilih bertarung sebagai caleg DPRD Provinsi Jawa Tengah. Akan tetapi, ia mengaku sudah siap mental jika gagal lagi. Paling tidak, katanya, keikutsertaan dia bisa mengerek perolehan suara Partai Nasdem.

Terlepas dari itu, Arman menilai, banyaknya selebritas bergabung ke dalam partai politik adalah indikasi sistem kaderisasi macet. Karena beberapa partai politik sengaja menggaet artis hanya untuk mendulang suara secara instan.

“Belum ada partai yang melakukan kaderisasi secara merit system, masih berorientasi pada kepentingan dan faktor like or dislike,” ucap Arman.

“Biasanya kaderisasi organik berbasis kinerja yang bisa menolong figur dapat eksis di dalam partai dan diperhitungkan oleh elite partai, bahkan masuk jajaran elite.”

Arman mengatakan, sejauh ini partai politik semakin tak begitu serius mendidik kadernya. Terbukti banyak partai politik menggaet artis, yang sesungguhnya belum layak duduk di parlemen.

Ujang juga sepakat fenomena artis yang kerap muncul jelang pemilu adalah indikasi partai politik tak punya kader yang bisa diandalkan mendulang suara di akar rumput. Akhirnya, meminjam “jasa” artis agar mampu lolos parliamentary threshold 4%.

“Jadi bukan hal yang aneh kalau partai merekrut kalangan artis,” tuturnya. “Ini konsekuensi dari pemilu ke pemilu.”


Artikel ini bersumber dari www.alinea.id.

error: Content is protected !!
Exit mobile version