Travel  

Menilik Sejarah Stasiun Gambir, Awalnya Hanya Bangunan Kecil

redaksiutama.com – Stasiun Gambir merupakan salah satu stasiun kereta api bersejarah di Indonesia yang telah berdiri sejak era kolonial Belanda.

Beberapa waktu lalu, stasiun yang berada di Gambir, Jakarta Pusat ini menjadi topik perbincangan di media sosial lantaran isu beredar bahwa Stasiun Gambir akan pensiun.

Namun, kabar burung itu dibantah oleh pihak PT KAI (Persero). Vice President Public Relations KAI Joni Martinus menegaskan bahwa Stasiun Gambir tidak akan berhenti beroperasi dan tetap melayani perjalanan kereta jarak jauh.

“Isu bahwa Stasiun Gambir telah pensiun tidak benar,” ujar Joni saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (7/6/2022).

Stasiun yang berada di timur kawasan Monumen Nasional (Monas) ini memiliki sejarah panjang. Sebelum menjadi ramai seperti sekarang ini, Stasiun Gambir dulunya ternyata adalah halte kereta api.

Sejarah Stasiun Gambir

Berikut sejarah Stasiun Gambir seperti dihimpun Kompas.com dari laman KAI Heritage.

1871

Sejarah Stasiun Gambir bermula pada 1871. Kala itu, perusahaan kereta api swasta Belanda, Nederlandsch Indisch Spoorweg Maatschapij (NISM) membangun halte kereta api yakni Halte Koningsplein.

Disebut halte, lantaran bangunannya kecil dan sederhana, sehingga tidak disebut stasiun kereta api.

Nama Koningsplein karena halte sederhana ini berada di timur Koningsplein atau lapangan raja era kolonial (saat ini Kawasan silang Monas). Lokasi Halte Koningsplein cukup strategis, dekat dengan kawasan perbelanjaan Noordwijk (kini daerah Juanda) dan Pasar Baru.

Pembangunan Halte Koningsplein tidak lepas dari pembukaan jalur kereta api Jakarta-Bogor pada 1869.

1884

Lokasi yang strategis membuat Halte Koningsplein sangat sibuk hingga tidak mampu menampung mobilitas penumpang. Oleh sebab itu, NISM memutuskan membangun Stasiun Weltevreden pada 4 Oktober 1884.

Lokasi Stasiun Weltevreden, merupakan lokasi Stasiun Gambir saat ini . Letaknya beberapa ratus meter arah utara dari Halte Koningspein.

Keberadaan Stasiun Weltevreden otomatis mengganti peranan Halte Koningsplein. Stasiun baru ini memiliki bangunan lebih kokoh, dengan atap besi yang ditopang tiang besi cor.

Stasiun Weltevreden juga melayani perjalanan kereta jarak jauh seperti Bandung dan Surabaya.

1928

Stasiun Weltevreden mengalami metamorfosis, menjadi bangunan bergaya art deco pada 1928. Atap sisi utara stasiun ditambah sepanjang 55 meter.

1925-1930

Pada kurun waktu 1925-1930 dilakukan elektrifikasi di stasiun kereta api di Jakarta, tak terkecuali Stasiun Weltevreden.

1937

Nama Stasiun Weltevreden diganti menjadi Stasiun Batavia Koningsplein. Saat itu, Stasiun Batavia Koningsplein menjadi stasiun tersibuk di Hindia Belanda, karena hampir seluruh kereta jarak jauh dan kereta ke Bogor singgah di stasiun ini.

Stasiun Batavia Koningsplein dikenal pula dengan Stasiun Gambir. Terkait penamaan Stasiun Gambir belum diketahui kapan pastinya, namun diduga sekitar 1922.

Saat itu masyarakat menyebut Koningsplein dengan Lapangan Gambir, karena konon tumbuh Pohon Gambir di lapangan tersebut. Pohon Gambir adalah pohon yang getahnya dapat disadap sebagai bahan baku pembuat gambir, salah satu bumbu untuk menyirih.

1976

Gubernur Jakarta Ali Sadikin dan Gubernur Jawa Barat Solihin GP melaksanakan kerja sama pembangunan kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek).

Tujuannya membuat pemukiman baru karena penduduk Jakarta sudah overload. Dari sisi transportasi, pemerintah mencanangkan proyek pembangunan jalur layang kereta api Jakarta-Manggarai.

Sebagai tempat perhentian di jalur layang kereta api, maka dibangun stasiun baru, termasuk Stasiun Gambir. Pemancangan tiang pertama Stasiun Gambir yang baru dilakukan pada 17 Desember 1986.

1922

Stasiun Gambir baru dibuka untuk umum oleh Presiden Soeharto pada 6 Juni 1922. Pembukaan Stasiun Gambir baru berbarengan dengan peresmian jalur dan operasional Kereta Rel Listrik (KRL).

Wajah Stasiun Gambir baru adalah kondisinya sampai sekarang. Bangunan stasiun terdiri dari tiga lantai.

Arsitektur bangunan terinspirasi dari bangunan Joglo dengan ciri khas atap bersusun. Sementara, bangunan didominasi warna hijau sehingga mudah dikenali.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

error: Content is protected !!