Mantan jenderal Venezuela mengaku tidak bersalah atas tuduhan narkoba

redaksiutama.com – Seorang pensiunan jenderal Venezuela yang menghadapi tuduhan narkoba di Amerika Serikat (AS) pada Selasa mengatakan keterlibatannya dalam rencana untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro menunjukkan bahwa dia tidak bersalah.

Sebaliknya, ia mendesak jaksa AS untuk mengungkapkan informasi yang menghubungkannya dengan pemberontakan yang direncanakan.

Jaksa AS mengatakan Cliver Alcala dan sejumlah pejabat senior Pemerintah Venezuela lainnya berkonspirasi dengan kelompok pemberontak Kolombia FARC untuk mengirimkan kokain ke AS. Alcala mengaku tidak bersalah setelah menyerahkan diri ke agen AS di Kolombia pada 2020.

Kementerian Informasi Venezuela belum merespons permintaan untuk memberikan komentar. Sementara Badan Intelijen Pusat AS dan juru bicara jaksa federal di Manhattan juga menolak memberikan komentar.

Alcala pensiun dari negara Amerika Selatan itu pada 2013 dan kemudian menjadi kritikus vokal terhadap Maduro, seorang sosialis yang dituduh AS melakukan korupsi, pelanggaran HAM dan melakukan kecurangan dalam pemilu.

“Meskipun dia adalah anggota konspirasi yang didakwa, Jenderal Alcala Cordones mengundurkan diri sebagai akibat dari penentangannya secara terbuka terhadap pemerintahan Maduro, dengan jelas menyampaikan pengundurannya dari keanggotaan dalam konspirasi tersebut,” kata pengacara Alcala dalam dokumen pengadilan yang dipublikasikan pada Selasa di pengadilan federal Manhattan.

Mereka menambahkan bahwa Alcala beberapa kalo bertemu dengan CIA antara 2017 dan 2020 dan “mendiskusikan rencana pemberontakan dengan mereka.” Pengacaranya mengatakan bukti partisipasinya dalam rencana pemberontakan melawan Maduro, yang dituduh melakukan pelanggaran narkoba bersama dengan Alcala, “membuktikan kebenarannya.”

Maduro membantah kritik AS terhadap pemerintahannya, menganggapnya sebagai rencana untuk menggulingkannya dalam sebuah kudeta dan mengambil alih cadangan minyak yang cukup luas negara anggota OPEC tersebut.

Sumber: Reuters

error: Content is protected !!
Exit mobile version