Waktu yang Tepat Mengenalkan Garam dan Gula pada Bayi, Orangtua Wajib Tahu

redaksiutama.com – Tumbuh kembang bayi pada awal-awal kelahiran merupakan waktu yang sangat penting.

Segala sesuatu yang dikenalkan kepada sang bayi sedikit banyak memengaruhi perkembangannya yang juga berdampak terhadap masa depannya. Salah satunya yaitu makanan yang diberikan.

Tentunya, kebutuhan gizi serta nutrisi bayi berbeda dengan orang dewasa. Maka jenis makanan yang diberikan pun wajib diperhatikan, mulai dari gizi, nutrisi, teksur, jenis, dan sebagainya.

Hal ini bertujuan agar makanan yang dikonsumsi oleh bayi sesuai dengan yang dibutuhkan ataupun agar tidak membahayakan bagi bayi itu sendiri.

Bahan makanan yang harus dihindari oleh bayi yaitu garam dan gula . Bahkan menurut Pelayanan Kesehatan Inggris (NHS), bayi jangan mengonsumsi garam sedikit pun, serta tidak membutuhkan gula .

Salah satu alasannya yaitu karena organ-organ tubuh, khususnya bagian pencernaan masih rentan, tidak sekuat milik orang dewasa.

Ginjalnya bahkan belum bisa menyaring garam berlebih seefisien ginjal orang dewasa. Maka dari itu, jika mengonsumsi garam secara berlebih akan menimbulkan kerusakan pada ginjal bayi.

Garam berlebih dalam makan-makanan bayi juga bahkan bisa meningkatkan tekanan darah.

Penelitian yang dilakukan Emmerik, De Jong, dan Van Elburg pada 2020 lalu menjelaskan bahwa, konsumsi garam berlebih memiliki efek yang lebih tinggi terhadap bayi dibandingkan terhadap orang dewasa dalam hal meningkatkan tekanan darah.

Hal ini memiliki efek jangka panjang, yaitu ketika mulai masuk usia anak-anak atau reamaja, muncul potensi risiko terkena penyakit jantung ketika mulai dewasa.

Bahkan dalam Dietary Reference Intakes for Sodium and Potassium mengatakan bahwa dalam kasus yang ekstrem konsumsi garam berlebih ini memerlukan perawatan medis lebih lanjut, dan bahkan kematian, meskipun kasus ini sangat jarang dan biasanyat terjadi ketika bayi secara tidak sengaja mengonsumsi garam dalam jumlah yang banyak.

Selain itu, konsumsi garam berlebih juga tentunya akan menyebabkan dehidrasi.

Sementara itu, bayi juga tidak boleh mengonsumsi gula . Gula yang dimaksud bukanlah gula yang terkandung alami seperti dalam buah-buahan, roti dan sayuran, melainkan gula yang ditambahkan ketika proses pengolahan makanan ataupun saat disajikan, seperti pemanis buatan, sirup, ataupun madu.

Contoh makanan yang biasanya terdapat gula yaitu yogurt, snack bayi, minuman buah, ataupun roti manis. Artinya, jangan menambahkan gula terhadap makanan yang akan dikonsumsi.

Hal ini karena makanan dan minuman bayi yang mengandung gula berarti juga mengandung banyak kalori, namun tidak mengandung banyak nutrisi.

Hal ini tentunya tidak mencukup kebutuhan bayi untuk tahap tumbuh kembangnya, yang tidak hanya membutuhkan kalori, tetapi juga membutuhkan nutrisi.

Kalori yang berlebih tentunya tidak baik bagi siapa pun, karena pada akhirnya mengarah pada obesitas , tekanan darah tinggi, dan juga permasalahan kesehatan gigi.

Selain itu, dalam penelitian yang dilakukan Bronsky dkk. pada 2017 memberi gula tambahan juga akan membentuk preferensi makanan yang disukai ketika besar, sehingga ia akan lebih menyukai makan-makanan manis.

Kapan Bayi Mengonsumsi Garam dan Gula?

Sebenarnya, bayi sudah mengonsumsi garam melalui ASI. Namun, hingga usia 12 bulan tidak boleh mengonsumsi garam yang ditambahkan ke dalam makanannya.

Hal ini direkomendasikan oleh banyak ahli, seperti dalam penelitian yang dilakukan pada 2018 oleh D’Auria, Bergamini, dan Staiano.

Setelah berusia satu tahun, menurut rekomendasi European Food Safety Authority (EFSA) bayi bisa mengonsumsi garam sekira setengah sendok teh setiap harinya.

Berbeda dengan garam , konsumsi gula tambahan bagi bayi harus menunggu satu tahun lebih lama. Ketika bayi berusia dua tahun, maka bisa ditambahkan gula ke dalam makanannya.

Sebab jika di bawah dua tahun, bayi cenderung akan menjadikan makanan manis sebagai preferensi mereka sehingga akan muncul risiko obesitas dan diabetes.

Namun, menurut NHS tidak ada panduana tau rekomendasi seberapa besar bayi untuk mengonsumsi gula per harinya. Namun, NHS tetap merekomendasikan agar tidak mengkonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula berlebih. (Mohammad Aqshal Fazrullah)***