Madu Bisa Turunkan Kadar Gula Darah dan Kolesterol Jahat, Ini Studinya

redaksiutama.com – Madu tidak hanya dikenal sebagai pemanis alami yang dapat menambahkan rasa pada makanan dan minuman, tetapi madu juga memiliki banyak manfaat kesehatan.

Menurut sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam Nutrition Reviews, madu (terutama madu mentah dan semanggi) ternyata mampu membantu menurunkan faktor risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes.

Para peneliti menemukan bahwa konsumsi madu telah dikaitkan dengan kadar gula darah puasa yang lebih rendah, serta kadar kolesterol total dan trigliserida yang lebih rendah.

Hal ini pun dapat membantu mengurangi risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes.

“Saya pikir pesan dari studi ini adalah bahwa mungkin ada beberapa manfaat dalam mengganti gula putih yang selama ini kita konsumsi dengan madu.”

Demikian penuturan asisten profesor ilmu gizi di Vanderbilt University School of Nursing di Nashville, Tennessee, Jamie Pope, MS, RDN, LDN, FAND, kepada Healthline.

“Satu sendok teh madu mungkin tidak banyak memberikan efek. Namun, kebiasaan mengganti gula putih dengan madu dari waktu ke waktu bisa berdampak positif,” jelas dia.

Madu semanggi dan madu mentah yang belum diproses tampaknya sangat bermanfaat untuk meningkatkan kontrol gula darah dan kadar lipid.

Sementara itu, madu robinia, yang terbuat dari serbuk sari pohon belalang hitam, juga sangat bermanfaat untuk meningkatkan kadar lipid.

Bukti penelitian yang bervariasi

Para peneliti menggunakan sistem Grading of Recommendations, Assessment, Development, and Evaluation (GRADE) untuk mengevaluasi dan mensintesis studi sebelumnya tentang madu.

“Lebih dari 100 organisasi di seluruh dunia secara resmi mendukung sistem GRADE,” kata seorang ahli diet di New York, Stephanie Schiff, RDN, CDN, CDCES.

“Ini tampaknya merupakan meta-analisis yang kuat dan komprehensif dengan ukuran sampel yang besar,” terangnya.

Tinjauan ini mencakup 18 uji coba terkontrol, dengan total 1105 peserta. Uji coba yang berbeda membandingkan peningkatan konsumsi madu dengan diet biasa peserta, konsumsi sukrosa, atau konsumsi sirup jagung fruktosa tinggi.

Para peneliti juga menemukan bukti yang mengaitkan konsumsi madu dengan penurunan kadar gula darah dan kolesterol lipoprotein densitas rendah (buruk), serta trigliserida.

Di samping itu, mereka juga menunjukkan bukti bahwa madu dapat meningkatkan kadar kolesterol lipoprotein densitas tinggi (baik).

“Ilmu pengetahuan tentang konsumsi madu dan penyakit kardiometabolik tetap menjadi topik populer bagi para peneliti karena lebih banyak manfaat kesehatan potensial yang terungkap,” kata direktur dietetika di University of Georgia di Athens dan juru bicara nasional untuk Academy of Nutrition and Dietetics, Emma Laing, PhD, RDN.

“Meskipun beberapa penelitian menunjukkan bahwa madu yang dimasukkan ke dalam pola makan bergizi dapat meningkatkan penanda kesehatan, diperlukan lebih banyak studi penelitian untuk membuktikan hal ini,” tambah dia.

Madu mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan

Meskipun madu terutama terdiri dari glukosa dan gula fruktosa yang tidak dimurnikan, namun madu juga mengandung senyawa lain yang mungkin memiliki efek kardiometabolik.

“Madu mengandung air dan sejumlah kecil serbuk sari, vitamin, dan mineral seperti kalium dan magnesium, serta antioksidan. Madu juga [mengandung] beberapa fitokimia seperti flavonoid, yang mungkin berperan dalam dampak kardiometabolik positifnya,” terang Pope.

Selain itu, madu memiliki sifat prebiotik, yang berarti madu menyediakan sumber makanan bagi bakteri menguntungkan di usus.

Tingkat bakteri menguntungkan yang sehat inilah yang dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh, sehingga mampu menurunkan risiko kondisi kesehatan tertentu.

“Penyakit seperti diabetes, penyakit jantung, dan artritis adalah kondisi peradangan,” kata Schiff.

Cara mengonsumsi madu dengan tepat

Madu memang memiliki beberapa manfaat nutrisi, tapi tidak dapat dipungkiri pemanis alami ini masih mengandung banyak gula dan tinggi kalori.

“Madu memiliki lebih banyak kalori per sendok makan daripada gula putih. Madu memiliki 64 kalori per sendok makan, dibandingkan dengan 49 pada gula. Jika kita menggunakan banyak, itu bisa bertambah,” kata Pope.

“Tapi madu sedikit lebih manis rasanya daripada gula, jadi jumlah yang lebih kecil dapat memberikan rasa manis yang sama, yang berarti kita mungkin bisa mengonsumsinya lebih sedikit,” ujar dia.

Pope dan Schiff merekomendasikan untuk mengonsumsi madu dalam jumlah sedang dan menggunakannya untuk menggantikan gula dalam diet, daripada hanya menambahkannya ke pola makan saat ini.

“Kita bisa menambahkan madu ke plain yogurt atau menaruh madu pada pancake, serta wafel.

“Kita juga bisa menggunakan madu dalam teh atau pada roti panggang sebagai pengganti selai. Dan untuk mempermanis oatmeal, madu juga bisa menjadi pilihan,” saran Schiff.

Mengganti gula putih dengan madu dalam beberapa makanan yang dipanggang mungkin bisa memengaruhi penampilan, rasa, tekstur, dan waktu memanggang, jadi Pope merekomendasikan untuk menggunakannya 1/4 cangkir dan suhu oven dikurangi 25 derajat.

Untuk mempelajari lebih banyak strategi dalam menikmati madu sambil mengembangkan pola makan sehat secara keseluruhan, Laing mendorong orang-orang berkonsultasi dengan ahli gizi.

“Tidak ada satu makanan pun, termasuk beberapa sendok makan madu setiap hari, yang akan menjamin peningkatan kesehatan ketika mempertimbangkan faktor gaya hidup utama lainnya,” katanya.

“Kebutuhan nutrisi individu bersifat spesifik dan bervariasi berdasarkan usia seseorang, kondisi kesehatan, dan penggunaan obat-obatan.”

“Ahli gizi bisa membantu kita memasukkan madu ke dalam pola makan dengan cara yang mendukung kesehatan dan mencerminkan preferensi pribadi, tradisi budaya, dan anggaran,” imbuh dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram “Kompas.com News Update”, caranya klik link , kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

error: Content is protected !!