JPMorgan: Bursa ASEAN Masuk Jurang Dulu, Baru Naik Kencang

redaksiutama.com – Bank investasi JPMorgan mengingatkan bursa saham di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN akan bergerak sangat volatile pada tahun depan. Pergerakan bursa ASEAN bahkan akan seperti permainan bungee jumping.

Analis JPMorhan, Rajiv Batra, memperkirakan bursa Asia akan jatuh sangat dalam tetapi kemudian akan melonjak tajam.

“(Goncangan ditandai dengan) penurunan yang sangat tajam tetapi kemudian melonjak signifikan di ketinggian (reli saat bursa melemah/bear market). Bursa kemudian turun signifikan lagi sampai menyentuh bottom,” tutur Batra, dikutip dari CNBC Internatioal.

JPMorgan menjelaskan volatilitas bursa ASEAN dipicu oleh melemahnya daya beli sebagai dampak dari kebijakan moneter ketat, saving yang lebih rendah, serta naiknya ongkos pinjam.

Bursa juga jatuh dan terus jatuh pada semester I-2022 karena besarnya tekanan eksternal. Termasuk didalamnya adalah kebijakan moneter ketat di tingkat global.

“Bursa akan terjun bebas kemudian melonjak pada semester II tahun ini,” imbuh Batra.

JP Morgan memperkirakan MSCI ASEAN Index akan terjatuh lagi menuju titik terendahnya pada semester I-2023. Sebaai catatan, MSCI ASEAN Index anjlok ke level terendahnya dalam sejarah pada Oktober.

Indeks mengukur kinerja saham dengan kapitalisasi besar dan menengah di empat bursa berkembang, satu bursa negara maju, dan satu bursa perbatasan. Indeks melibatkan 170 konstituen dari Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand dan Vietnam.

JPMorgan menyebut negara-negara yang menggantungkan perekonomiannya pada perdagangan seperti Vietnam, Singapura, Malaysia, dan Thailand akan berdampak besar dari perlambatan ekonomi global.

Permintaan paling anjlok terutama untuk barang tahan lama.Pelonggaran China bahkan diperkirakan tidak mampu menambal kebocoran akibat melambatnya ekonomi global. Menurut JPMorgan, ekonomi Thailand akan mendapat pukulan tajam dari perlambatan global. Dampak tersebut akan sangat terasa di sisi ekspor jasa dan investasi swasta.

Ekonomi Thailand pada 2023 diperkirakan melandai menjadi 2,7% dari 3,3% pada proyeksi sebelumnya. Tantangan yang dihadapi ekonomi Singapura juga tidak kalah berat.

“Kami memperkirakan menurunnya permintaan global akan membuat ekonomi Singapura terus memperlambat sektor produksi barang mereka. Kendati demikian, produksi sektor jasa mampu menambal penurunan tersebut,” tutur Batra.

JPMorgan mengatakan pelonggaran China tidak akan berdampak positif secara signifikan karena ada resesi di negara maju. Dia mengingatkan sebagian besar ASEAN merupakan mitra perdagangan besar Eropa sehingga akan sangat terpapar oleh perlambatan ekonomi global.

Jika China membuka perbatasan dan mengizinkan warganya bepergian maka itu akan menjadi katalis positif. Turis China berkontribusi sebanyak 20% dari warga asing yang berkunjung ke Singapura pada 2019.

Thailand juga akan menikmati dampak positif jika China mengizinkan warganya bepergian.

“Ada kekhawatiran jika pembukaan China akan menambah inflasi Thailand. Sektor pariwisata akan meningkatkan penerimaan dan konsumsi. Namun, hal itu belum tentu berkorelasi di Thailand di mana selama ini negaranya lebih ditopang oleh pasokan bukan permintaan,” tutur JPMorgan.

TIM RISET CNBC INDONESIA

error: Content is protected !!