redaksiutama.com – Kasus dugaan penganiayaan yang menewaskan seorang santri berinisial AM di Pondok Pesantren Gontor menuai perhatian publik.

Bagaimana tidak? Peristiwa penganiayaan tersebut terjadi antara adik tingkat dan kakak tingkat yang berasal dari Pondok Pesantren Gontor .

Adapun, korban meninggal AM diduga dianiaya oleh kakak tingkatnya. Insiden tersebut bermula saat kegiatan Perkemahan Kamis Jumat (Perkaju) yang digelar pada 18-19 Agustus 2022, lalu.

Pihak Kepolisian pun segera menyelidiki kasus tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi termasuk dua terduga pelaku. Tak hanya itu, jasad AM juga diautopsi oleh tim forensik.

Sementara, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan bahwa pihaknya akan mengawal proses penyelidikan dan pengusutan kasus kekerasan terhadap anak tersebut.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ketua KPAI, Susanto. Pihaknya pun agar segera mengunjungi Pondok Gontor dan Polres Ponorogo untuk melakukan koordinasi.

“KPAI akan terus mengawal kasus ini dan dalam waktu dekat, akan segera berkunjung ke Ponpes Gontor Ponorogo dan Polres Ponorogo untuk pengawasan dan koordinasi lebih lanjut,” katanya, Jumat, 9 September 2022.

Dalam kesempatan tersebut, Susanto pun menyayangkan adanya insiden kekerasan dalam lingkungan sekolah yang terjadi di Pondok Gontor .

“Terkait meninggalnya salah satu santri AM (17 thn) kami menyampaikan duka mendalam semoga, Allah SWT memberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Kami menyayangkan atas kejadian tersebut.” ujarnya.

Lebih lanjut, Susanto berharap agar kejadian serupa tak kembali terulang, apalagi pada anak-anak usia belia.

“Kami berharap kasus ini tak terulang kembali. Sehingga orang tua yang menitipkan santrinya di sana semakin nyaman,” ucapnya.

Selain itu, Susanto juga mengharapkan agar proses belajar mengajar di Pondok Gontor tidak terganggu dengan insiden kekerasan tersebut.

“Adanya kasus ini kami berharap proses pembelajaran tak terganggu, terus berjalan dan upaya pencegahan segala bentuk kerentanan kekerasan dilakukan secara optimal. Sehingga perwujudan pesantren ramah anak dapat terealisasi dengan baik,” tuturnya.

Sebagai informasi, Polres Ponorogo bersama dengan Polda Jawa Timur telah memeriksa 18 saksi.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kasat Reskrim Polres Ponorogo AKP Nikolas Bagas Yudhi Kurnia.

“Update ada 18 orang saksi yang diperiksa sampai hari ini. Untuk beberapa saksi lain akan kami update lagi,” tuturnya.

Lebih lanjut, Nikolas mengatakan bahwa ke-18 saksi yang diperiksa itu, dua diantaranya merupakan terduga pelaku. Selain itu, saksi-saksi yang diperiksa lainnya terdiri staf pengasuhan pesantren, dokter dan staf IGD rumah sakit pesantren.

“Terduga pelaku saat ini masih proses pemeriksaan. Sudah ada dua orang. Santri semua, senior korban,” ujarnya.***