redaksiutama.com – Seratusan siswa SMA 1, 2 dan 3 Kota Padang, Sumatera Barat lincah mengetikkan kata kunci pada pencarian google di ponsel masing-masing, untuk mencari referensi tentang pertanyaan yang diberikan pemateri.

Pertanyaan yang diberikan Anggota Komisi V DPRD Sumbar, Hidayat itu tentang budaya Minangkabau. Pertanyaan simpel saja. Bagaimana cara menjadi generasi yang berfikiran maju tetapi tetap menjaga kepribadian yang berlandaskan nilai-nilai budaya sendiri.

Pertanyaan itu memberikan ruang yang luas bagi siswa untuk menjawab sesuai pemahamannya tentang adat yang telah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang orang Minangkabau hingga saat ini.

Khazanah budaya Minangkabau yang sangat luas berdasarkan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Adat bersendi agama, agama bersendi kitab Allah) memberikan banyak kemungkinan jawaban.

Namun ternyata tidak ada yang mengacungkan tangan. Sepertinya kata kunci pencarian yang mereka gunakan belum memberikan rujukan yang diinginkan. Atau jawaban yang terbayang dalam kepala dirasa belum benar-benar pas sebagai jawaban.

Tetapi pemateri tidak habis akal. Dengan lihai ia berhasil memotivasi, memantik keberanian siswa. Satu persatu mereka maju, menjawab pertanyaan sesuai pemahaman.

Pemahaman adat budaya

Hidayat menyebut salah satu sifat pemimpin yang harus dipupuk adalah keberanian untuk tampil. Pertanyaan yang diberikan adalah untuk memupuk keberanian itu, sekaligus juga untuk menilai pemahaman siswa tentang adat budaya.

Keberanian itu akan menjadi modal bagi mereka untuk bertarung, bersaing secara global. Sementara budaya lokal adalah benteng agar tidak latah dengan budaya luar dan tetap menjaga nilai luhur budaya sendiri.

Pasca-dihilangkannya mata pelajaran Budaya Adat Minangkabau (BAM) pada 2014, sumber ilmu dan pengetahuan siswa tentang adat budaya seperti dikebiri. Sedikit sekali generasi muda yang mau bersusah payah mencari dan belajar tentang budaya.

Akibatnya, generasi muda menjadi “rabun” budaya sendiri. Hanya pernah mendengar sepotong-sepotong hingga sulit untuk berharap adanya pemahaman yang mendalam, apalagi mengimplementasikannya dalam kehidupan.

Pengetahuan budaya mereka terpapar oleh budaya asing yang memenuhi ruang publik. Memenuhi laman berbagai media sosial.

Padahal sejarah mengatakan kemampuan para diplomat dan tokoh-tokoh bangsa Indonesia dari Sumatera Barat dulunya berasal dari akar budaya tersebut.

Kemampuan berkomunikasi yang kuat namun tetap santun, keberanian tampil di depan umum, cara merespon lingkungan semua bermula dari pemahaman dan implementasi budaya.

Hidayat menyebut memasukkan materi budaya dalam pendidikan formal di sekolah adalah yang paling efektif untuk memunculkan kembali generasi muda yang melek budaya.

Perda Sumbar No 2 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pendidikan menurut Hidayat memberikan ruang untuk kembali membawa BAM ke dalam pendidikan formal. Gubernur Sumbar, Mahyeldi juga sudah memberikan respon positif dengan mengeluarkan Surat Edaran. Sebagian sekolah juga sudah memulainya.

Peraturan Gubernur (Pergub) akan lebih tepat untuk hal itu. Dengan dasar Pergub bisa disinkronisasikan pendidikan budaya itu mulai dari pendidikan dasar hingga SMA.

Generasi yang kuat

Namun persoalan lain muncul. Jumlah guru yang memiliki kapasitas atau latar belakang keilmuan tentang budaya juga terbatas. Karena itu, solusi pemaparan materi dengan konsep klaster atau menggabungkan beberapa sekolah dalam satu pertemuan bisa digunakan.

Salah seorang ulama yang juga praktisi budaya Minangkabau, Buya Mas’oed Abiddin menilai tugas dan kewajiban generasi tua bagi generasi muda adalah mempersiapkan generasi yang kuat, berkualitas, namun tetap menjaga nilai-nilai Adat-Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Ada adab dan ilmu yang harus dibangun dalam diri generasi muda. Karena dua komponen tersebut harus sejalan dalam diri anak muda. Akan sulit berkembang anak muda, jika berilmu tapi tidak beradab. Begitu juga sebaliknya.

Instrumen untuk membangun komponen adab dan ilmu dalam diri generasi muda adalah dengan memberikan pemahaman tentang ABS-SBK. Karena nilai adab dan ilmu ada dalam ABS-SBK. Tidak dapat dilalaikan lagi, terutama di Sumbar yang adatnya ABS-SBK.

“Kita berkewajiban membangun generasi emas. Selama ini kita lihat, kita pernah memiliki generasi emas. Para pemimpin bangsa di Indonesia. Tidak ada satu daerah pun di Indonesia memiliki pahlawan nasional terbanyak, kecuali Sumbar. Kalau begitu kita punya modal,”ujarnya.

Apa yang menyebabkan para pahlawan itu bisa menjadi pemimpin bangsa, ternyata karena beradab dan ilmu. Mereka memahami dan mengimplementasikan ABS-SBK. Nilai-nilai adab dan ilmu itu terangkum dalam ABS-SBK.

Buya Mas’oed Abidin juga berharap nilai-nilai yang terkandung dalam ASB-SK dapat diimplementasikan dalam kehidupan, pendidikan, sosial dan hubungan bermasyarakat. Jika diimplementasikan dengan berkebudayaan.

Untuk itu, diharapkan peran Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan dalam membangun generasi masa depan.

Gubernur Sumbar, Mahyeldi menyebut saat ini provinsi itu telah memiliki Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2022 tentang Provinsi Sumbar. Berdasarkan UU itu, kearifan lokal, budaya dan falsafah ABS SBK akan mendasari kegiatan di pemerintah daerah dan masyarakat Minangkabau, termasuk untuk pendidikan. Mendidik anak-anak muda berwawasan global, namun tetap membumikan budaya lokal, budayanya sendiri.