redaksiutama.comJakarta, CNBC Indonesia – Harga kripto utama cenderung menguat pada perdagangan Senin (12/9/2022), di tengah optimisme pelaku pasar meski risiko masih cukup besar kedepannya.

Melansir data dari CoinMarketCap pada pukul 09:05 WIB, Bitcoin melesat 2,24% ke posisi harga US$ 22.069,02/koin atau setara dengan Rp 326.842.186/koin (asumsi kurs Rp 14.810/US$). Sedangkan untuk Ethereum naik 0,19% ke posisi US$ 1.765,15/koin atau Rp 26.141.872/koin.

Berikut pergerakan 10 kripto utama pada hari ini.

Sumber: CoinMarketCap

Bitcoin berhasil menguat ke kisaran US$ 22.000 pada hari ini, setelah pada perdagangan akhir pekan lalu berhasil menguat ke kisaran US$ 21.000.

Pada pekan lalu, Bitcoin sempat menyentuh kisaran US$ 18.000, karena investor khawatir dengan sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) dan bank sentral Eropa.

Membaiknya harga kripto tak bisa dilepaskan dari kinerja positif pasar saham AS, Wall Street, meski kekhawatiran investor akan pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) dan bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) masih ada.

Pada perdagangan akhir pekan lalu, ketiga indeks utama Wall Street terpantau cerah bergairah. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melesat 1,19%, S&P 500 melonjak 1,53%, dan Nasdaq Composite melejit 2,11%.

Mark Hackett, chief of investment research dari Nationwide mengatakan pasar saham AS selama ini begitu tertekan oleh pernyataan hawkish dari pejabat The Fed.

Namun, kondisi membaik karena pelaku pasar mulai optimis. Melandainya harga energi kemungkinan akan semakin membuat inflasi AS melandai sehingga The Fed diharapkan bisa mengurangi kebijakan agresifnya.

Meski begitu, dia mengingatkan risiko ke depan masih akan sangat tinggi. The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin (bp).

Ketua The Fed, Jerome Powell pun mengatakan bahwa ia dan rekan-rekannya berkomitmen untuk meredam inflasi.

The Fed juga berencana mempercepat pengurangan neraca pada bulan ini. Tindakan ini dikhawatirkan dapat membebani ekonomi dan membuat tahun ini lebih brutal untuk saham dan obligasi.

Setelah meningkatkan neraca menjadi US$ 9 triliun setelah pandemi, The Fed mulai menurunkan beberapa Treasuries dan sekuritas berbasis hipotek yang dimilikinya pada Juni dengan kecepatan US$ 47,5 miliar. Telah diumumkan bahwa bulan ini mereka meningkatkan laju pengetatan kuantitatif menjadi US$ 95 miliar.

Skala pelonggaran The Fed belum pernah terjadi sebelumnya dan efek dari bank sentral yang mengakhiri perannya sebagai pembeli Treasuries yang konsisten dan tidak sensitif terhadap harga sejauh ini sulit untuk ditentukan dengan tepat dalam harga aset.

Selain itu, pasar akan merespon mengenai berakhirnya era suku bunga rendah untuk melawan inflasi yang kian panas. Tak hanya The Fed saja yang makin bersikap hawkish, tetapi bank sentral Eropa (European Central Bank/ECB) juga bersikap demikian

ECB berencana menaikkan suku bunga acuan 2% untuk dua tahun ke depan. Rencana ini muncul setelah adanya peningkatan risiko ekonomi. Ini adalah aksi dalam memerangi rekor inflasi yang mencapai 9,1% meskipun kemungkinan resesi.

ECB menaikkan suku bunga deposito dari nol menjadi 0,75% pada hari Kamis dan Presiden ECB, Christine Lagarde mengarahkan untuk dua atau tiga kenaikan lagi, mengatakan suku bunga masih jauh dari tingkat yang akan membawa inflasi kembali ke 2%.

Seorang narasumber mengatakan kepada Reuters, bahwa kemungkinan besar akan terjadi jika proyeksi inflasi ECB hingga 2025 masih di atas 2%. ECB saat ini melihat inflasi mencapai 2,3% pada 2024.

Di lain sisi, proses upgrade blockchain Ethereum yang disebut sebagai Ethereum Merge atau The Merge tinggal menghitung hari. Rencananya, proses upgrade atau migrasi tersebut dilakukan pada Kamis hingga Jumat pekan ini.

The Merge akan merubah protokol blockchain Ethereum dari sebelumnya Proof-of-Work (PoW) menjadi Proof-of-Stake (PoS), di mana perubahan ini diharapakan dapat lebih hemat penggunaan energi.

TIM RISET CNBC INDONESIA