redaksiutama.comJakarta, CNBC Indonesia – Ratu Elizabeth II mangkat pada Kamis (8/9/2022) waktu setempat di usia 96 tahun, setelah bertahta di Inggris selama 70 tahun. Ratu Eilzabeth II naik tahta pada 6 Februari 1952, atau beberapa tahun setelah Perang Dunia II usai.

Meski demikian, Ratu Elizabeth II tentunya menyaksikan langsung berbagai krisis yang dialami Inggris, termasuk jatuh bangun nilai tukar poundsterling. Memang Ratu Elizabeth tidak terlibat dalam pemerintahan Inggris, semua keputusan kebijakan ada di tangan Perdana Menteri.

Pertengahan 1960an, menjadi krisis besar pertama yang dilihat Ratu Elizabeth. Partai Buruh menguasai pemerintahan dan pemipinnya Harold Wilson menjadi Perdana Menteri (PM) Oktober 1964.

Setelahnya Inggris menghadapi defisit senilai 800 juta poundsterling, nilai yang sangat besar saat itu. Mata uang poundsterling pun tertekan. Berbagai tekanan yang besar terjadi saat itu membuat pemerintah Inggris mendevaluasi mata uangnya sebesar 14% pada 18 November 1967.

Setelahnya, kurs poundsterling pun mengalami pasang surut. Berikut pergerakan poundsterling dan pemicu naik turunnya sebagaimana dilansir World Economic Forum.

Sehari sebelum mangkat, Ratu Elizabeth II melihat lagi kurs poundsterling merosot. Nilai tukar poundsterling ambruk ke level terlemah dalam 37 tahun terakhir melawan dolar AS pada perdagangan Rabu (7/9/2022). Bahkan, berdasarkan data Refinitiv, posisi poundsterling tidak jauh dari rekor terlemah sepanjang sejarah.

Outlook perekonomian Inggris yang ‘gelap gulita’ memicu jebloknya poundsterling. Kemarin poundsterling sempat merosot nyaris 1% ke US$ 1,1403 yang merupakan level terendah Maret 1985, berdasarkan data Refinitiv. Sepanjang tahun ini poundsterling jeblok hingga 15%.

Rekor terlemah poundsterling tercatat di US$ 1,0520 yang tercatat pada 26 Februari 1985.

Inflasi di Inggris yang meroket 10,1% year-on-year (yoy) pada Juli menjadi pemicu kemerosotan poundstelring. Inflasi tersebut menjadi yang tertinggi dalam 40 tahun terakhir, pemicunya apalagi kalau bukan harga energi dan pangan, masalah yang sama dihadapi dunia saat ini.

Dengan nilai poundsterling yang jeblok, ada risiko inflasi akan semakin tinggi. Bank sentral Inggris (Bank of England/BoE) tentunya akan terus agresif menaikkan suku bunga. Saat ini suku bunga BoE sebesar 1,75%. Banyak analis melihat suku bunga tersebut akan terus dikerek hingga mencapai 4% di semester I-2023.

Inflasi tinggi akan menggerus data beli masyarakat, apalagi ditambah dengan suku bunga yang tinggi. Ekspansi dunia usaha juga akan terhambat, alhasil resesi semakin nyata.

Deutsche Bank dalam catatannya yang dirilis Senin lalu menyebut risiko krisis poundsterling cukup besar.

“Dengan transaksi berjalan yang mencatat rekor defisit, untuk bangkit poundsterling perlu capital inflow yang besar yang didukung tingkat keyakinan investor serta penurunan ekspektasi inflasi. Tetapi yang terjadi saat ini adalah kebalikannya,” tulis Deutsche Bank dalam catatannya yang dikutip CNBC International.

TIM RISET CNBC INDONESIA